1 hour ago · Food · 0 comments

“Waktu tidur, nafas kamu bunyi,” Abang, suami saya, berkata suatu hari. Saya menatap Abang dengan wajah horor. Hari itu libur dan saya menghabiskannya dengan kegiatan paling menyenangkan di akhir minggu: Bangun siang. “Masa Iya? Mungkin kecapekan.” Saya menjawab sekenanya, karena memang kalau kecapekan saya suka mendengkur. Tapi nggak bisa dipungkiri, saya jadi menyentuh leher yang akhir-akhir ini terasa lebih tebal. Mirip badak. ”Bukan. Kayak sesak. Lemak kamu di leher udah banyak itu.” Saya terdiam. Rasanya kayak ditonjok, tapi di leher. Sudah hampir satu tahun saya menghindari timbangan. Saat melihat angka terakhir di jarum, saya memutuskan untuk melupakannya, dan membiarkan timbangan saya berdebu di kolong kasur. Saya masih olahraga sebisanya; namun jujur, saya tidak benar-benar memperhatikan apa yang saya makan. Saya makan apa saja yang ada, yang cepat, yang murah. Saya makan cemilan yang tersedia saat meeting, saya memilih kopi dengan kadar gula normal karena saya suka, dan…

No comments yet. Log in to reply on the Fediverse. Comments will appear here.